Jenis-Jenis Sumber Daya Alam
Written by admin on 30 November 2009 – 16:04 -Sumber Daya Alam (SDA) adalah segala sesuatu yang ada di alam bumi ini yang dapat dipergunakan untuk pemenuhan hidup manusia.
Pembagian jenis-jenis sumber daya alam dapat bermacam-macam:
- Berdasarkan Ketersediaannya:
1. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui
2. Sumber daya alam yang dapat diperbarui
3. Sumber daya alam yang tidak akan habis pakai
- Berdasarkan asalnya sumber daya alam dibagi:
1. Sumber Daya Alam Biotik (organik) merupakan SDA yang berasal dari kehidupan.
Contoh: batubara, minyak bumi.
2. Sumber Daya Alam Abiotik (anorganik) merupakan SDA yang berasal bukan dari kehidupan.
Contoh: timah, emas, bauksit.
- Berdasarkan kelestariannya:
1. Renewable Natural Resources (Sumber Daya Alam yang dapat diperbarui) merupakan Sumber Daya Alam yang dapat terus diusahakan keberadaanya atau dapat dilestarikan.
Contoh: Air, Tumbuh - Tumbuhan.
2. Unrenewable Natural Resources (Sumber Daya Alam yang tidak dapat diperbarui) merupakan Sumber Daya Alam yang akan habis jika terus menerus digunakan atau sulit dijaga kelestariaannya. Karena membutuhkan waktu yang sangat lama dalam proses pembentukannya.
Contoh: barang-barang tambang.
- Berdasarkan pemanfaatannya
1. Sumber daya alam materi: yang di manfaatkan adalah materi sumber daya alam tersebut. Contoh: bahan galian yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan.
2. Sumberdaya alam hayati: sumber daya yang memanfatkan makhluk hidup. meliputi hewan dan tumbuhan.
3. Sumber daya alam energi: Yang dimanfaatkan adalah energi yang tekandung dalam sumber daya alam tersebut. Contoh: BBM.
4. Sumber daya alam ruang merupakan pemanfaatan ruang atau tempat yang diperlukan manusia dalam hidupnya.
5. Sumber daya alam waktu: Sumber Daya Alam yang pemanfaatannya tergantung waktu. Contoh: Sawah tadah hujan hanya dapat difungsikan saat musim penghujan
- Berdasarkan Pembentukan:
1. Sumber Daya Alam Biotik terbentuk dari adanya proses tumbuh dan berkembangnya makhluk hidup.
Contoh: Tumbuhan, Hewan
2. Sumber Daya Alam Fisis terbentuk dari proses fisis dan kekuatan alam.
Contoh: air, tanah, udara, barang tambang.
3. Sumber Daya Alam Lingkungan terbentuk dari penggabungan antara faktor fisis dan biotik.
Contoh: Lingkungan pegunungan, lingkungan lembah.
- Sumber daya alam berdasarkan nilai ekonomis atau nilai kegunaannya:
1. Sumber Daya Alam Ekonomis Tinggi merupakan sumber daya alam yang dalam mendapatkannya memerlukan biaya yang tinggi.
Contoh: mineral dan logam mulia seperti emas, perak, intan.
2. Sumber Daya Alam Ekonomis Rendah merupakan sumber daya alam yang dalam mendapatkannya memerlukan biaya yang relatif murah.
Contoh: Pasir, Batu.
3. Sumber Daya Alam nonEkonomis merupakan sumber daya alam yang dalam mendapatkannya tidak memerlukan biaya.
Contoh: Udara, Sinar dan Panas Matahari
- Sumber daya alam berdasarkan bentuknya dapat dikelompokkan ke dalam lima (5) kelompok, yaitu sebagai berikut:
1. Sumber daya lahan atau tanah
2. Sumber daya hutan
3. Sumber daya air
4. Sumber daya laut
5. Sumber daya mineral
- Sumber daya (resources) menurut Undang-Undang Republik Indonesia tentang Lingkungan Hidup No.4 Tahun 1982 dapat dikelompokkan menjadi empat kategori utama, yaitu:
1. sumber daya manusia;
2. sumber daya alam hayati;
3. sumber daya alam nonhayati;
4. sumber daya buatan.
- Sumber daya alam menurut Barlow dapat dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu sebagai berikut:
1. Sumber Daya Alam yang dapat diperbarui
2. Sumber Daya Alam yang tidak dapat diperbarui
3. Sumber Daya Alam yang Memiliki sifat Gabungan
a. Sumber Daya Biologis
b. Sumber Daya Tanah (lahan)
ingin lebih banyak?
download e-booknya klik disini
atau
download e-book jenis-jenis sumber daya alam (.exe) virus free
atau
ditulis oleh: Syaiful Imran
Tags: Geografi, SDA, Sumber Daya Alam
Posted in Sumber Daya Alam | 2 Comments »
Geomorfologi Sumatera (Bagian Selatan)
Written by admin on 20 April 2009 – 22:46 -Geomorfologi Sumatera Bagian Selatan.
Secara geomorfologi, semakin besar bagian dari sumatera selatan dapat digambarkan sebagai blok pegunungan. Banyak diantaranya berupa gunung berapi. Blok pegunungan ini hingga timur laut yang terlipat geosynclines terjadi pada umumnya rendah di bagian selatan. Terdapat dataran aluvial sempit yang terputus memisahkan blok Bengkulu dari Samudera Hindia sedangkan di sepanjang pantai ada yang sangat luas alluvial plain.
Blok Bengkulu
Kenampakan umum
Tinggi permukaan turun perlahan-lahan dari ketinggian lebih dari 1000 m di barat laut ke 50 m dan kurang dekat Cape Tjina di tenggara. Di bagian utara lebih banyak ditemukan breksi vulkanik dan tuff dengan daerah sabuk neogen yang lebih luas. Daerah batuan andesit tua (awal Neogene) dapat dibedakan dari gunung berapi kuarter karena sisa-sisa hasil aktivitas dari kedua mengisi lembah.
Pola drainase
Intensitas perubahan yang terlihat adalah peneplain yang terlepas dari pengaruh lithological yang disebutkan di atas. Terutama ditentukan oleh ketinggian dimana berbagai komponennya terangkat. Sumber Sungai utama di blok ini terletak di dekat pergesekan sepanjang median graben yang akhirnya mengalir ke arah Samudra Hindia.
Pantai
Fenomena menarik lainnya adalah wilayah pesisir yaitu munculnya terumbu karang dan pantai sebagai akibat dari gabungan efek tectonic yang mengangkat dan perubahan perubahan Pleistosen di laut.
Gunung berapi
Volcanisme tidak sepenuhnya berhenti pada awal neogene. Gungung api dari akhir neogene pada beberapa tempat mengalami erosi yang sangat kuat sehingga sulit dibedakan morfologinya dari pembentukan andesit tua. Aktivitas gunung api kuarter terbatas pada “fault scarp” pada Median graben tapi beberapa gunung api dapat terbentuk contuhnya gunung Pugung (1964 m) yang berloksi di barat daya danau Ranau.
Median Graben
Kenampakan umum, Kenampakan yang rumit terlihat dari teluk semangko di selatan hingga pulau Weh di utara dan sebagai tanda dari puncak-puncak bukit Barisan. Di timurnya, merupakan sebuah komplek sabuk pegunungan yang terletak di Sumatera bagian selatan. Saat ini bagian median Graben terlihat menghujam ke arah Samudera Hindia dan bagian lainnya kearah selat Malaka.
Wilayah Semangko,
Teluk Semangko berbentuk seperti baji dan adanya sebuah wilayah segitiga dataran aluvial sungai dengan nama yang sama menyempit di barat laut dan berakhir. Kontras antara lurus barat curam dan lengkung curam timur menjadi kurang jelas.
Mekaukau-Tanjungsakti
Danau Ranau di 540 m di atas permukaan laut yang berarti curam ke barat laut ke Kuala Sungai. Sebelumn sungai terputus di fault timur, bergabung dengan Sungai Mekakau yang datang dari arah berlawanan dan membentuk Sungai Selabung.
Keruh-Musi, Sungai Keruh yang mengalir ke arah barat laut di graben, bergabung dengan Musi bagian atas yang datang dari arah berlawanan, dan kemudian putus di timur karena adanya fault.
Ketaun, Selanjutnya pada Median Graben menjadi sempit dan rumit oleh beberapa daerah horsts. Wilayah tersebut dialiri oleh sungai Ketaun yang mengalir ke barat laut dan akhirnya berakhir karena fault di bagian barat yang mencapai Samudra Hindia.
Dataran Rendah Bagian Timur
Blok Sekampong
Di ujung selatan Sumatra, sebelah timur Teluk Lampung memiliki karakteristik yang berbeda dari sebuah blok timur, dengan adanya gunung walaupun itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan Semangko dan Ratai Blok sebelumnya. Van Bemmelen memberi nama Sekampong Blok. Peneplain meskipun terhalang oleh batuan dasit Lampung dan bentuk lahan dapat pula dianggap sebagai tuff plato yang mengalami beberapa blok faulting. Tuffs berasal dari celah letusan sepanjang satu atau lebih fault pada bagian selatan dari Lampung.
Dataran basalt Sukadana, Sungai Sekampong muncul dari Barisan pegunungan akibat mengambil arah timur hingga mencapai basalt dataran lava Sukadana. Dari sana mengikuti apa saja aliran lurus ke arah tenggara Sumatera mengalir sepanjang tepi lurus dari dataran lava. Ini mampu mengumpulkan beberapa sungai dari dataran dacitic tuff ke barat, namun tidak ada dari cabang-cabang baru dan porous basalt.
Dataran aluvial sempit di selatan, alluvial plain pantai timur yang sangat sempit di sebelah selatan sebagai perbandingan luas dengan yang lebih datar ke timur laut. Ternyata, lebar dari alluvial plain tidak terutama ditentukan oleh tingkat sedimentasi dari sungai yang besar, tetapi harus diatur oleh tenaga tectonics baru sehingga terjadi subsidence dan pergolakan.
Dataran rendah Palembang, Drainase yang dari Lampung tuff dataran lebih ke timur laut tidak menunjukkan kontrol struktural yang seolah-olah menunjukkan penurunan intensitas faulting dalam petunjuk ini. Sebagian besar sungai dataran rendah mengalir ke timur laut yang sesuai dengan rantai bukit Barisan.
Tiga anticlinoria utama dapat dibedakan di selatan dan pusat di Palembang pengecualian di Muaraenim-Baturaja, Pendopo-Prabamulik, dan Palembang. Lebih jauh ke arah barat laut ketiganya bergabung dan menjadi satu zona luas dilipat. Ridges pembentukan yang pertama disebutkan di atas bahwa anticlinorium terlihat dari tingkat peneplain dan karena itu ditunjukkan sebagai dilipat gunung secara geomorfologi pada peta.
Pantai purba, Rekonstruksi pantai purba terletak di tenggara Sumatera. Meskipun mungkin ada beberapa keraguan mengenai beberapa orang pada kesimpulan geologi dasar, sangat jelas bahwa hanya ada dataran sempit alluvial yang ada di sebelah timur Palembang.
Bagian barat laut peneplain, Sungai-sungai yang mengaliri daerah peneplain lebih ke utara juga dipengaruhi oleh kecenderungan umur geologi . Pendopo anticlinorium yang memiliki efek yang penting dalam hal ini. Sebagian besar tergantung pada jumlah dan kualitas mereka penskorsan beban. Sebagai contoh yang Klingi refans mencapai dataran rendah yang sangat baik menghasilkan tanaman kering.
Area Pegunungan hingga Timur Median Graben
Kenampakan Umum, Wilayah ini dari bentuk dari bagian timur bukit barisan. Beberapa blok yang membujur horizontal dapat dilihat, ini adalah bentukan permukaan pra-volcanic dari gunung api kuarter. Kondisi alam dan umur dari permukaan ini diperkirakan sama dengan blok bengkulu.
Semangko dan Blok Ratai, Blok Semangko terletak di timur Teluk Semangko, yang sebagian besar terdiri dari andesites. Mencapai ketinggian 700 meter dekat dengan ujung barat lereng bawah dan ke arah timur laut bertahap. Beberapa puncak bahkan meningkat lebih tinggi dari permukaan wilayah lainnya.
Terdapat beberapa fault (sesar) yang mempengarihi di sebelah timur teluk Ratai. Gunung api andesit Ratai memiliki puncak berbentuk tapal kuda, berlokasi di sesar ini dan terbentuk disepanjang sesar ini.
Antara Semangko dan Ratai blok juga bagian selatan gunung api Ratai, terdapat sebuah dataran aluvial yang terdapat sungai subsequent yang berasal dari aliran coosequent dari blok Semangko dan aliran radial dari gunung api.
Hulawaisamang dan Gunung Api Sekitar, Salah satu wilayah granitis dan metamorfic di Sumatra terbesar terletak di utara dari dataran Wail Lima. Bagian dari wilayah ini merupakan dasar (wilayah yang rendah). meskipun lebih rendah daripada Pulau Bangka Belitung, namun bagian lain merupakan sisa dari dari Pegunungan Hulawaisamang yang tingginya lebih dari 1.080m dan tertutub sedimentasi tersier. Butir kuarsa tersebar diatas permukaan tanah.
Graben gedongsurion, Terusan dari blok Semangko terdapat hingga timur laut dari gunung api Tanggamus dan disana terdapat dataran tinggi dengan ketinggian 1.100 – 1.300 m, sebagian tertutp oleh hasil gunung api andesit kuarter. Bagin pertemuan merupakan gunung api tektonik yang tersingkap yang merupakan Graben Gedongsurion. Wilayah ini mempunyai satu pusat erupsi yang mempengaruihi wilayah tuff lampung.
Komering Gap dan Pegunungan Garba, Hasil dari erupsi Ranau dialirkan ke arah timur melalui “Komering Gap” antara stratovolcano dan kompleks Pegunungan Garba hingga ke barat laut. Kompleks Pegunungan Garba menurun ketinggiannya di arah tenggara yang hilang di Ranau.
Kaba volcano, Wilayah ini sebenarnya merupakan sebuah gunung kembar yang lama, kerucut gunung bagian barat laut punah dan rusak. Air panas terjadi pada sisi timur. Yang beberapa Kaba kawah yang berada di garis sesar.
download artikel ini dengan format microsoft word (.doc) klik disini
Tags: geomorfologi sumatera, sumatera bagian selatan
Posted in Geomorfologi | 37 Comments »
Pemanfaatan Sumber Daya Pertambangan Gas Bumi
Written by admin on 7 April 2009 – 17:10 -Jenis sumber daya alam dapat dibedakan menjadi beberapa jenis menurut kemampuan perbaharuannya, yaitu:
- Sumber daya alam yang dapat dipulihkan atau diperbaharui (renewable resources). Contohnya yaitu: tanah, air, vegetasi.
- Sumber daya alam yang tidak dapat dipulihkan atau diperbaharui (non renewable resources). Contohnya barang tambang fosil (batu bara, minyak bumi, gas alam), mineral, batuan.
- Sumber daya alam yang dapat digunakan secara terus menerus, contohnya yaitu energi matahari, pasang surut air laut, udara.
Salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui adalah sumber daya dari pertambangan. Sebenarnya bukan tidak dapat diperbarui, namun untuk perbaruan barang tambang pada umumnya membutuhkan waktu yang sangat lama yang tidak sesuai dengan jangkauan umur manusia. Perbaruan barang tambang memerlukan waktu hingga jutaan tahun, sehingga termasuk dalam kategori sumber daya yang tidak dapat diperbarui.
Pertambangan adalah rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian (mineral, batubara, panas bumi, minyak dan gas). Salah satu dari sekian banyak barang dan produksi pertambangan yaitu gas alam (Nature Gas).
Gas alam sering juga disebut sebagai gas bumi atau gas rawa merupakan salah satu barang tambang berbentuk gas yang terdiri dari metana (CH4). Ditemukan di ladang minyak bersama minyak bumi, ladang gas bumi dan juga tambang batu bara. Gas yang kaya dengan metana diproduksi melalui pembusukan oleh bakteri anaerobik dari bahan-bahan organik selain dari fosil disebut biogas. Sumber biogas dapat ditemukan di rawa-rawa, tempat pembuangan akhir sampah, serta penampungan kotoran manusia dan hewan, ini yang membedakan antara gas bumi dan gas rawa.
Gas alam yang didapat dari dalam sumur di bawah bumi, biasanya ber-gabung dengan minyak bumi. Gas ini disebut sebagai gas associated. Ada juga sumur yang khusus menghasilkan gas, sehingga gas yang dihasilkan disebut gas non associated. Sekali dibawa ke atas permukaan bumi, terhadap gas dila-kukan pemisahan untuk menghilang-kan impurities seperti air, gas-gas lain, pasir dan senyawa lainnya.
Gas bumi atau gas alam bukan saja merupakan gas bakar yang paling penting, tetapi juga merupakan bahan baku utama untuk berbagai sintesis kimia. Produk dari gas bumi yang terutama misalnya berbagai hidrokarbon dan LPG. Dengan semakin naiknya nilai minyak bumi, maka proses pemulihan hasil gas makin ditingkatkan.
Komponen utama dalam gas alam adalah metana (CH4), yang merupakan molekul hidrokarbon rantai terpendek dan teringan. Gas alam juga mengandung molekul-molekul hidrokarbon yang lebih berat seperti etana (C2H6), propana (C3H8) dan butana (C4H10), selain juga gas-gas yang mengandung sulfur (belerang). Gas alam juga merupakan sumber utama untuk sumber gas helium.
Gas alam dapat berbahaya karena sifatnya yang sangat mudah terbakar dan menimbulkan ledakan. Gas alam lebih ringan dari udara, sehingga cenderung mudah tersebar di atmosfer. Akan tetapi bila ia berada dalam ruang tertutup, seperti dalam rumah, konsentrasi gas dapat mencapai titik campuran yang mudah meledak, yang jika tersulut api, dapat menyebabkan ledakan yang dapat menghancurkan bangunan. Kandungan metana yang berbahaya di udara adalah antara 5% hingga 15%.
Gas alam dewasa ini telah menjadi sumber energi alternatif yang banyak digunakan oleh masyarakat dunia untuk berbagai keperluan, baik untuk perumahan, komersial maupun industri. Dari tahun ke tahun penggunaan gas alam selalu meningkat. Hal ini karena banyaknya keuntungan yang didapat dari penggunaan gas alam dibanding dengan sumber energi lain. Energi yang dihasilkan gas alam lebih efisien. Tidak seperti halnya dengan minyak bumi dan batu bara, penggunaannya jauh lebih bersih dan sangat ramah lingkungan sehingga tidak menimbulkan polusi terhadap lingkungan. Disamping itu, gas alam juga mempunyai beberapa keunggulan lain, seperti tidak berwarna, tidak berbau, tidak korosif dan tidak beracun.
Secara garis besar pemanfaatan gas alam dibagi atas 3 kelompok yaitu :
1. Gas alam sebagai bahan bakar
Antara lain sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Gas/Uap, bahan bakar industri ringan, menengah dan berat, bahan bakar kendaraan bermotor (BBG/NGV), sebagai gas kota untuk kebutuhan rumah tangga hotel, restoran dan sebagainya.
Gas alam terkompresi (Compressed natural gas, CNG) adalah alternatif bahan bakar selain bensin atau solar. Di Indonesia, kita mengenal CNG sebagai bahan bakar gas (BBG). Bahan bakar ini dianggap lebih ‘bersih’ bila dibandingkan dengan dua bahan bakar minyak karena emisi gas buangnya yang ramah lingkungan. CNG dibuat dengan melakukan kompresi metana (CH4) yang diekstrak dari gas alam.
LPG (liquified petroleum gas), adalah campuran dari berbagai unsur hidrokarbon yang berasal dari gas alam. Dengan menambah tekanan dan menurunkan suhunya, gas berubah menjadi cair. Komponennya didominasi propana (C3H8) dan butana (C4H10). Elpiji juga mengandung hidrokarbon ringan lain dalam jumlah kecil, misalnya etana (C2H6) dan pentana (C5H12). Sifat elpiji terutama adalah sebagai berikut:
- Cairan dan gasnya sangat mudah terbakar
- Gas tidak beracun, tidak berwarna dan biasanya berbau menyengat
- Gas dikirimkan sebagai cairan yang bertekanan di dalam tangki atau silinder.
- Cairan dapat menguap jika dilepas dan menyebar dengan cepat.
- Gas ini lebih berat dibanding udara sehingga akan banyak menempati daerah yang rendah.
Penggunaan Elpiji di Indonesia terutama adalah sebagai bahan bakar alat dapur (terutama kompor gas). Selain sebagai bahan bakar alat dapur, Elpiji juga cukup banyak digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor walaupun mesin kendaraannya harus dimodifikasi terlebih dahulu.
Salah satu resiko penggunaan elpiji adalah terjadinya kebocoran pada tabung atau instalasi gas sehingga bila terkena api dapat menyebabkan kebakaran. Pada awalnya, gas elpiji tidak berbau, tapi bila demikian akan sulit dideteksi apabila terjadi kebocoran pada tabung gas. Menyadari itu Pertamina menambahkan gas mercaptan, yang baunya khas dan menusuk hidung. Langkah itu sangat berguna untuk mendeteksi bila terjadi kebocoran tabung gas.
2. Gas alam sebagai bahan baku
Antara lain bahan baku pabrik pupuk, petrokimia, metanol, bahan baku plastik LDPE (low density polyethylene), LLDPE = linear low density polyethylene, HDPE (high density polyethylen), PE (poly ethylene), PVC (poly vinyl chloride), C3 dan C4-nya untuk LPG, CO2-nya untuk soft drink, dry ice pengawet makanan, hujan buatan, industri besi tuang, pengelasan dan bahan pemadam api ringan.
3. Gas alam sebagai komoditas energi untuk ekspor
Gas alam yang paling besar digunakan untuk komoditas ekspor di dunia yaitu LNG (Liquified Natural Gas) atau gas alam cair.
Gas alam cair Liquefied Natural Gas (LNG) adalah gas alam yang telah diproses untuk menghilangkan ketidakmurnian dan hidrokarbon berat dan kemudian dikondensasi menjadi cairan pada tekan atmosfer dengan mendinginkannya sekitar -160° Celcius. LNG ditransportasi menggunakan kendaraan yang dirancang khusus dan ditaruh dalam tangki yang juga dirancang khusus. LNG memiliki isi sekitar 1/640 dari gas alam pada Suhu dan Tekanan Standar, membuatnya lebih hemat untuk ditransportasi jarak jauh di mana jalur pipa tidak ada. Ketika memindahkan gas alam dengan jalur pipa tidak memungkinkan atau tidak ekonomis, dia dapat ditransportasi oleh kendaraan LNG. Dibandingkan dengan minyak mentah, pasar gas alam cair kecil namun matang.
Teknologi mutakhir juga telah dapat memanfaatkan gas alam untuk air conditioner (AC), seperti yang digunakan di bandara Bangkok, Thailand dan beberapa bangunan gedung perguruan tinggi di Australia.
Sumber:
GPSA Engineering Data Book (Gas Processors Suppliers Association) 12th edition (Year 2004)
http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_alam
http://www.pertamina.com/
Tags: Gas Bumi, Pemanfaatan Gas Bumi
Posted in Sumber Daya Alam | 22 Comments »
Konsep Dasar dan Konsep Esensial Geografi
Written by admin on 4 April 2009 – 10:16 -Konsep dasar Geografi merupakan konsep yang paling dasar dan hakiki yang menggambarkan striktur ilmu agar ilmu tersebut mudah untuk dipelajari serta mudah dibedakan dengan ilmu lain.
Konsep dasar Geogradi menurut Biddle :
- Lokasi Fenomena
- Observasi
- Fakta-Fakta
- Distribusi
- Asosiasi Keruangan
- Interaksi Keruangan
- Asosiasi Areal
- Interaksi Areal
- Hubungan Manusia dengan Bumi
- Integrasi - Diferensiasi Areal
Konsep dasar Geografi menurut Daldjoeni :
- Pandangan budayawi terhadap bumi
- Konsep regional
- Pertalian wilayah
- Interaksi Keruangan
- Kelokalan
- Skala
- Konsep perubahan
Konsep dasar geografi menurut Hagget :
- Analisis Keruangan
- Analisis Ekologik atau Kelingkungan
- Analisis Kompleks kewilayahan
Konsep dasar Geografi menurut Harvey
- Deskripsi kognitif
- Analisis Morfometrik
- Analisis sebab akibat
- Analisis Temporal
- Analisis fungsional-ekologik
- Analisi sistem
Konsep esensial geografi adalah konsep penting dalam ilmu geografi yang harus dimengerti dan dikuasai sesuai dengan tingkatan atau jenjang pendidikannya.
Konsep esensial geografi meliputi:
- Lokasi
- Jarak
- Keterjangkauan
- Pola
- Morfologi
- Aglomerasi
- Kegunaan
- interaksi-interdependensi
- Diferensiasi areal
- Keterkaitan keruangan
Tags: konsep dasar, konsep esensial
Posted in Geografi | 4 Comments »
Perlapisan Masyarakat Desa
Written by admin on 2 April 2009 – 21:37 -Perlapisan masyarakat didesa didasarka atas beberapa hal, antara lain:
- Pemilikan lahan
- Pekerjaan
- Kekayaan
- Kepandaian
Adapun pembagian perlapisan masyarakat didesa mulai dari teratas hingga ke bawah terdapat 4 golongan :
- Elite desa
- Pegawai atau Pamong Desa
- Petani
- Buruh
Tags: lapisan masyarakat desa
Posted in Desa | Comments Off
Tipologi Desa
Written by admin on 2 April 2009 – 21:27 -Tipologi desa atau pembagian perkembangan desa dinilai dari beberapa aspek, yaitu:
- infrastruktur
- tingkat pendidikan
- mata pencaharian
- ekonomi
- partisipasi dalam pembangunan
1. PRA DESA
- suatu permukiman yang tidak menetap atau sering berpindah-pindah (nomad)
- contoh: penambang, petani ladang berpindah, pembalak
2. DESA SWADAYA
- dengan ciri pertanian sudah menetap namun masih tergantung pada sumber alam
3. DESA SWAKARYA
- adopsi teknologi meluas
- adat tidak begitu ketat
- industri dari primer ke sekunder
4. DESA SWASEMBADA
- mata pencaharian bervariasi
- sarana dan prsaran baik
- rumah dan infrastruktur yang baik
Tags: Desa, tipologi
Posted in Desa | 2 Comments »
Faktor Mempengaruhi Pertumbuhan Penduduk Negara Berkembang
Written by admin on 1 April 2009 – 23:44 -Pertumbuhan penduduk di negara berkembang seperti Indonesia kira-kira 2-3% per tahun, bahkan lebih. jumlah yang cukup tinggi ini dapat disebabkan beberapa faktor.
Faktor pendorong:
- Dekolonisasi - Negara pasca penjajahan
- Filosofi hidup, bahwa banyak anak banyak rezeki
- Tingkat Kemakmuran
- Tingkat derajat kesehatan
- Kurangnya fasilitas hiburan
Faktor penghambat pertumbuhan penduduk di negara berkembang
- Kondisi Geografis
- Kekeringan dan serangan hama
- Pola pikir yang terlalu pendek
Tags: faktor pertumbuhan, Negara Berkembang
Posted in Negara Berkembang | No Comments »
Faktor Pertumbuhan Penduduk Negara Maju
Written by admin on 1 April 2009 – 23:37 -Pertumbuhan penduduk di negara maju berkisar kurang dari 1% tiap tahun, anga ini sangat kecil dibanding dengan negara yang sedang berkembang.
Faktor yang mempengaruhi antara lain:
- Teori Kapilaritas Sosial
- Adanya anggapan bahwa "Time is Money" sehingga penduduk lebih mementingkan pekerjaan
- Aktivitas penduduk di negara maju sangat optimal
- Kesadaran penduduk terhadap resiko dari ledakan penduduk
Tags: faktor pertumbuhan, Negara Maju
Posted in Negara Maju | No Comments »
Pemetaan dan Simbol Peta bagian 2
Written by admin on 31 Maret 2009 – 19:03 -Sambungan dari Pemetaan dan Simbol Peta Bagian 1.
Jika pada bagian 1 dijelaskan tentang proses pemetaan, maka mada bagian 2 ini akan dijelaskan mengenai simbol peta dan penutup. selamat membaca.
B.
Simbol
Peta selalu dilengkapi dengan pemberian simbol-simbol yang merupakan generalisasi dari suatu benda atau bidang sebenarnya. Simbol hendaknya mudah digambar dan dibaca oleh pembaca peta atau users serta usahakan dibuat semenarik mungkin. Untuk lebih membuat simbol dan peta lebih menarik biasanya simbol-simbol tersebut diberi warna atau colouring. Simbol-simbol yang ditempatkan pada sebuah peta dapat dianalisa dan dapat menentukan tema dari peta tersebut.
Penggunaan simbol peta dari waktu ke waktu selalu berkembang mengikuti dan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan tentang perpetaan dan menyesuaikan pula dengan jenis peta sehingga memungkinkan simbol suatu seri peta berbeda dengan simbol seri peta lain. Simbol yang ada dalam sebuah peta hendaknya adalah simbol yang baik dan benar. Dalam buku “Desain dan Komposisi Peta Tematik” karangan Juhadi dan Dewi Liesnoor, disebutkan bahwa syarat simbol yang baik secara umum adalah:
-
·
Sederhana -
·
Mudah digambar -
·
Mudah dibaca -
·
Mencerminkan data dengan teliti -
·
Berbentuk seragam dalam suatu peta ataupun peta seri -
·
Bersifat umum
Simbol pada dasarnya terbagi menjadi dua, antara lain:
Berdasar atas bentuknya:
-
Simbol titik -
Simbol garis -
Simbol luasan
Berdasar atas arti atau sifatnya:
- Simbol kualitatif, yaitu simbol yang menyatakan keadaaan sebenarnya apa yang digambarkan dengan bentuk yang lebih sederhana. Simbol ini hanya mewakili unsur yang dimaksud baik berupa titik, garis, maupun luasan.
- Simbol kuantitatif, yaitu simbol yang menyatakan keadaaan sebenarnya apa yang digambarkan dengan bentuk yang lebih sederhana dengan disertai dengan nilai atau kuantitasnya. Nilai atau kuantitas tersebut dapat menunjukkan ketinggian, jumlah, luas, dan sebagainya.
Simbol titik sendiri dapat terbagi menjadi tiga, yaitu:
- Simbol Geometrik atau Abstrak, Simbol yang digunakan untuk mewakili suatu kenampakan muka bumi dengan bentuk yang abstrak, yang mudah digambar namun agak sulit diketahui maksudnya.
- Simbol Piktorial, Simbol yang digunakan untuk mewakili suatu kenampakan muka bumi dengan bentuk yang mirip atau identik dengan bentuk asli kenampakan tersebut.
- Simbol Huruf (Letter Symbol), Simbol yang digunakan untuk mewakili suatu kenampakan muka bumi yang khas atau khusus dengan huruf. Penggunaan simbol tersebut disesuaikan pula dengan jenis peta. Simbol ini mempunyai bentuk yang sangat sederhana dan sangat mudah di pahami, namun kebanyakan simbol ini kurang memiliki nilai keindahan ataupun kurang begitu artistik.
Simbol garis merupakan simbol yang digunakan untuk mewakili kenampakan muka bumi yang berupa garis, perhubungan, pemisahan, serta gerakan atau arus. Simbol dapat digolongkan menjadi 2, yaitu:
- Simbol garis deskriptif yaitu simbol garis yang digunakan untuk menyatakan unsur yang sesungguhnya ada, bentuknyapun biasanya mirip dengan sesungguhnya
- Simbol garis abstrak yaitu simbol garis yang digunakan untuk menyatakan unsur yang tak tampak, bentuknya menyesuaikan. Contoh:
- - - - - - - - - - : batas kecamatan
++++++++++ : batas propinsi
—————— : jalan setapak
Begitu pula dengan simbol luas, dibagi menjadi 2, antara lain:
- Simbol luas yang deskriptif
- Simbol luas yang abstrak
PENUTUP
Kesimpulan
Tidaklah mudah dalam pembuatan sebuah peta hingga menghasilkan peta yang baik dan benar. Tahapan dalam membuat peta secara umum adalah:
-
Perencanaan -
Pencarian dan pengumpulan data -
Pengolahan data -
Penggambaran atau penyajian -
Penggunaan peta
Simbol merupakan salah satu unsur peta yang sangat penting, simbol mempu memberikan nyawa pada peta sehingga peta menjadi lebih mudah dimengerti. Dalam pemberiannya, simbol kelompokkan menjadi 2 jenis:
-
Berdasar artinya terdiri dari simbol kualitatif dan simbol kuantitatif -
Berdasar atas bentuknya, terdiri dari simbol titik, simbol garis, dan simbol luas.
Tags: Pemetaan, Peta, Simbol Peta
Posted in Kartografi | No Comments »
Pemetaan dan Simbol Peta bagian 1
Written by admin on 27 Maret 2009 – 19:17 -PENDAHULUAN
Peta adalah gambaran permukaan bumi yang diproyeksikan ke dalam bidang datar denngan skala tertentu. Kartografi merupakan ilmu yang khusus mempelajari segala sesuatu tentang peta. Mulai dari sejarah, perkembangan, pembuatan, pengetahuan, penyimpanan, hingga pengawetan serta cara-cara penggunaan peta. Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana proses pemetaan dan simbol pada peta.
Lalu apa fungsi dan tujuan pembuatan peta? Adan beberapa maksud dari pembuatan sebuah peta. Fungsi pembuatan peta antara lain:
1. Dengan adanya peta dapat menunjukkan posisi atau lokasi relatif yang hubungannya dengan lokasi asli dipermukaan bumi.
2. Peta mampu memperlihatkan ukuran.
3. Peta mampu menyajikan dan memperlihatkan bentuk.
4. Mengumpulkan dan menyeleksi data dari suatu daerah dan menyajikan diatas peta dengan simbolisasi.
Sedangkan tujuan pembuatan peta yaitu:
1. Untuk komunikasi informasi ruang.
2. Media menyimpan informasi.
3. Membantu pekerjaan.
4. Membantu dalam desain.
5. Analisis data spatial.
Dari fungsi dan tujuan diatas, maka peta bukan hanya berguna dalam menentukan lokasi namun juga dalam berbagai bidang. Selain itu, pembuatan peta bukan semata-mata hanya karena untuk memperoleh uang, namun juga sangat berguna bagi hajat hidup masyarakat yang luas dalam keruangan.
Dalam proses pemetaan harus melalui beberapa tahapan mulai dari penyusunan ide hingga peta siap digunakan. Kesemua itu harus dilakukan dengan penuh hati-hati dan ketelitian agar diperoleh peta yang baik dan benar sera memiliki dilai artistik atau seni sehingga pengguna mampu menggunakan peta dengan maksimal dan pembuat dapat menghasilkan peta yang baik sehingga terjadi timbal balik antar pengguna dengan pembuat peta.
Dalam pemberian simbol pada peta juga harus diperhatikan agar peta mudah diketahui dan dipahami isi dan maksud peta tersebut. Pemberian simbol ini juga menentukan nilai keartistikan sebuah peta sehingga peta tersebut enak dipandang dan lebih jelas.
ISI
A. Proses Pemetaan
Dalam mempelajari bidang kartografi, peta sangatlah diperlukan. Tanpa adanya peta, Kartografi tidak akan ada pula karena kartografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang perpetaan. Berbagai jenis peta telah muncul sesuai dengan maksud, tujuan, serta manfaat pembuatan peta tersebut. Namun, bagaimanakah sebuah peta itu dibuat? Dalam mempelajari kartografi kita harus mengetahui hal tersebut.
Pada dasarnya, peta merupakan kalibrasi dari bidang permukaan bumi 3 dimensi menjadi sebuah gambaran utuh yang lebih sederhana ke dalam selembar kertas media yang datar dengan penyesuaian baik ukuran maupun bentuknya disertai pula dengan informasi dan detail-detailnya.
Dalam proses pembuatan peta harus mengikuti pedoman dan prosedur tertentu agar dapat dihasilkan peta yang baik, benar, serta memiliki unsur seni dan keindahan. Secara umum proses pembuatan peta meliputi beberapa tahapan dari pencarian dan pengumpulan data hingga sebuah peta dapat digunakan. Proses pemetaan tersebut harus dilakukan dengan urut dan runtut, karena jika tidak dilakukan secara urut dan runtut, tidak akan diperoleh peta yang baik dan benar. Lalu apa dan bagaimana proses atau tahap-tahap pemetaaan itu?
1. Tahap pencarian dan pengumpulan data
Ada beberapa cara dalam mencari dan mengumpulkan data, yaitu:
a. Secara langsung
Cara pencarian data secara langsung dapat melalui metode konvensional yaitu meninjau secara langsung ke lapangan dimana daerah tersebut akan dijadikan objek dari peta yang dibuat. Cara ini disebut dengan teristris. Dengan cara ini dilakukan pengukuran medan menggunakan theodolit, GPS, dan alat lain yang diperlukan serta pengamatan informasi ataupun wawancara dengan penduduk setempat secara langsung sehingga didapat data yang nantinya akan diolah.
Dapat pula dilakukan secara fotogrameti, yaitu dengan metode foto udara yang dilakukan dengan memotret kenampakan alam dari atas dengan bantuan pesawat dengan jalur khusus menurut bidang objek. Atau dapat pula menggunakan citra dari satelit serta cara-cara lain yang dapat digunakan
b. Secara tak langsung
Melalui cara ini tentu saja kita tidak usah repot-repot meninjau langsung ke lapangan melainkan kita hanya mencari data dari peta atau data-data yang sudah ada sebelumnya. misalnya dalam membuat peta kepemilikan tanah di daerah Semarang, kita cukup mencari peta administrasi lengkap kota Semarang, kemudian dapat diperoleh data pemilikan tanah di Lembaga Pertanahan daerah atau nasional (BPN).
Data yang diperoleh dari pencarian data secara tak langsung ini disebut dengan data sekunder, sedangkan peta yang digunakan sebagai dasar pembuatan peta lain disebut sebagai peta dasar.
2. Tahap pengolahan data
Data yang telah dikumpulkan merupakan data spasial yang tersebar dalam keruangan. Data yang telah diperoleh tersebut kemudian dikelompokkan misalnya data kualitatif dan data kuantitatif, kemudian data kuantitatif dilakukan perhitungan yang lebih rinci. Langkah selanjutnya yaitu pemberian simbol atau simbolisasi terhadap data-data yang ada.
Dalam tahap akan mudah dengan menggunakan sistem digital komputing karena data yang masuk akan langsung diolah dengan software atau aplikasi tertentu sehingga data tersebut akan langsung jadi dan siap untuk disajikan.
3. Tahap penyajian dan penggambaran data
Tahap ini merupakan tahap pembuatan peta dari data yang telah diolah dan dilukiskan pada media. Dalam tahap ini dapat digunakan cara manual dengan menggunakan alat-alat yang fungsional, namun cara ini sangat membutuhkan perhitungan dan ketelitian yang tinggi agar didapat hasil yang baik.
Akan lebih baik jika digunakan teknik digital melalui komputer, penggambaran peta dapat digunakan aplikasi-aplikasi pembuatan peta yang mendukung, misalnya ARC View, ARC Info, AutoCAD Map, Map Info, dan software lain. Setelah peta tergambar pada komputer, kemudian data yang telah disimbolisasi dalam bentuk digital dimasukkan dalam peta yang telah di gambar pada komputer, pemberian informasi tepi, yang kemudian dilakukan proses printing atau pencetakan peta.
4. Tahap penggunaan data
Tahap ini sangatlah penting dalam pembuatan sebuah peta, karena dalam tahap ini menentukan baik atau tidaknya sebuah peta, berhasil atau tidaknya pembuatan sebuah peta. Dalam tahap ini pembuat peta diuji apakah petanya dapat dimengerti oleh pengguna atau malah susah dalam dimaknai. Peta yang baik tentunya peta yang dapat dengan mudah dimengerti dan dicerna maksud peta oleh pengguna. Selain itu, pengguna dapat memberikan respon misalnya tanggapan, kritik, dan saran agar peta tersebut dapat disempurnakan sehingga terjadi timbal balik antara pembuat peta (map maker) dengan pengguna peta (map user).
Dalam buku “Desain dan Komposisi Peta Tematik” karangan Juhadi dan Dewi Liesnoor, disebutkan bahwa tahapan pembuatan peta secara sistematis yang dianjurkan adalah:
1. Menentukan daerah dan tema peta yang akan dibuat
2. Mencari dan mengumpulkan data
3. Menentukan data yang akan digunakan
4. Mendesain simbol data dan simbol peta
5. Membuat peta dasar
6. Mendesain komposisi peta (lay out peta), unsur peta dan kertas
7. Pencetakan peta
8. Lettering dan pemberian simbol
9. Reviewing
10. Editing
11. Finishing
Bersambung ke pemetaan dan simbol bagian 2
Tags: Pemetaan, Peta, Simbol Peta
Posted in Kartografi | No Comments »

Terima Kasih telah berkunjung di blog saya..
silahkan jadi pembaca blog saya.
contact:
ipank.say@gmail.com







